Search

Sabtu, 15 Desember 2012

Curiosity Diindikasi Temukan Unsur Kehidupan di Mars














VIVAnews - Kendaraan robotik atau rover milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Curiosity, telah menemukan zat kimia kompleks, serta petunjuk adanya senyawa organik yang lama dicari di Mars. Senyawa organik tersebut dapat membantu memecahkan teka-teki apakah pernah ada kehidupan di planet merah tersebut.

Curiosity menemukan bukti berupa klorin, sulfur, serta jejak adanya air dari sampel tanah yang diambil di permukaan Mars berdasarkan hasil penelitian di laboratorium. Peneliti juga menemukan senyawa organik di dalam instrumen SAM (Sample Analysis at Mars).

Namun, tim sains belum bisa memastikan apakah senyawa ini benar-benar berasal dari Mars. Sebab, bisa jadi senyawa ini "terbawa" secara tidak sengaja oleh Curiosity yang mendarat di Mars sejak beberapa waktu silam.

"SAM belum bisa mendeteksi pasti untuk melaporkan itu senyawa organik," kata Paul Mahaffy, peneliti utama SAM di Goddard Space Flight Center di Greenbelt, AS, milik NASA, saat konferensi pers di pertemuan tahunan American Geophysical Union di San Francisco.
Paul R Mahaffy merupakan kepala pada Atmospheric Experiments Laboratory NASA.

"Meskipun instrumen itu mendeteksi senyawa organik, pertama-tama kami harus menentukan apakah senyawa tersebut asli dan berasal dari Mars," kata John Grotzinger, ilmuwan proyek Curiosity. 

Pengumuman terbaru ini diumumkan setelah banyaknya kabar yang mengatakan NASA enggan untuk mengungkap hasil temuan besar Curiosity di Mars pada pekan lalu. Tentu kabar ini menimbulkan kecurigaan terhadap misi Curiosity.

Pengamatan yang dilakukan oleh Curiosity meliputi perchlorate, suatu senyawa reaktif oksigen dan klorin yang sebelumnya telah ditemukan di kutub Mars oleh Phoenix Lander NASA.

Instrumen SAM milik Curiosity menggunakan oven kecil untuk mengolah sampel kotoran tanah (dirt) di Mars. Setelah itu, mempelajari gas untuk menentukan susunan kimiawi sampel tersebut. Sampel tanah Mars ditempatkan dalam perangkat dengan bantuan sebuah sendok yang dipasang di lengan robot Curiosity.

Saat Curiosity mengolah perchlorate dalam oven instrumen SAM, robot penjelajah tersebut menciptakan senyawa metana terklorinasi, suatu material organik karbon.

"Klorin adalah berasal dari Mars, tapi mungkin karbon bisa berasal dari Bumi. Karbon bisa terbawa oleh Curiosity dan terdeteksi oleh desain sensitivitas tinggi instrumen SAM," tulis pejabat NASA dalam sebuah pernyataan.

Penemuan baru oleh Curiosity tersebut muncul saat penelitian rover fokus pada sebidang debu Mars yang tertiup angin dan pasir yang disebut "Rocknest." Area ini merupakan hamparan datar medan di Mars yang jauhnya beberapa mil dari tujuan pertama Curiosity.
Dalam wilayah ini muncul bebatuan yang disebut Glenelg pada dasar Gunung Sharp yang tingginya 5 kilometer dari pusat lokasi pendaratan rover, di kawah Gale.

Lengan yang dipasang di Curiosity ini telah mengonfirmasi bahwa tanah Mars pada situs Rocknest serupa dalam komposisi kimia dan menampilkan kotoran tanah yang pernah terlihat oleh tiga rover NASA lainnya, yaitu Pathfinder, Spirt, dan Opportunity.

Foto-foto dari Mars Hand Lens Imager (MAHLI) rover Mars tersebut mengungkapkan bahwa pasir yang hanyut oleh angin (sand drift) pada Rocknest memiliki permukaan berkerak yang menutupi pasir halus di bawahnya.

"Arus pasir yang aktif di Mars terlihat lebih gelap di permukaan," kata peneliti utama MAHLI dari Malin Space Science Systems di San Diego, Ken Edgett, dalam sebuah pernyataan. "Ini merupakan arus yang lebih tua, yang telah lama tak tidak aktif. Kemudian membiarkan pembentukan kerak dan debu menumpuk di atasnya," ujarnya.

Sementara itu, alat deteksi Chemical and Mineralogy Curiosity, CheMin, menemukan bahwa medan sekitar Rocknest merupakan campuran vulkanik dan menyerupai kaca, material non-kristal. Robot penjelajah ini, menurut ilmuwan, menemukan bukti lebih banyak akan keberadaan air dari yang diharapkan sebelumnya, yang masih menempel pada pasir.

Rover Curiosity yang seukuran mobil ini mendarat di Mars pada awal Agustus 2012. Robot senilai US$2,5 miliar ini merupakan penjelajah terbesar yang pernah dikirim ke planet lain. Curiosity diprediksi menghabiskan waktu setidaknya dua tahun untuk menjelajahi Kawah Gale.

Misi ini bertujuan menentukan apakah wilayah tersebut pernah menjadi wilayah yang mendukung adanya kehidupan mikroba. | Sumber: Space.com (art)








0 komentar:

Posting Komentar