Search

Sabtu, 01 Desember 2012

Mitos Vs. Fakta: Gangguan-gangguan Mental


Artikel yang mengupas tentang mitos dan fakta mengenai berbagai penyakit gangguan mental.
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan bagaimana proses mental seseorang terjadi, sering menjadi bahan topik pembicaraan kita sehari-hari. Termasuk yang berkaitan dengan gangguan mental(mental disorder), yang seringkali tidak terlalu dipahami secara benar dan menjadi suatu persepsi bahkan opini yang salah di masyarakat. Dalam artikel ini ditampilkan beberapa mitos dari mental disorder yang sering kita dengar dan bagaimana fakta sebenarnya mengenai gangguan mental tersebut.
  1. Kepribadian Antisosial (Antisocial Personality Disorder)
    Mitos:
    Mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak suka bergaul, lebih suka menyendiri dan menghindari kontak dengan lingkungan.
    Fakta:
    Orang dengan kepribadian antisosial adalah orang-orang yang secara konsisten menunjukkan sikapketidakpedulian terhadap hak-hak orang lain dan lingkungan dengan sikap-sikap yang tidak simpatik seperti berbicara kasar, bohong bahkan sampai dengan melakukan pencurian. Kebalikan dengan mitosnya, orang dengan kepribadian ini mereka sangat ekspresif (extrovert) dengan sikap-sikap yang menyebalkannya ini. Orang yang seringkali kita sebut dengan antisosial adalah mereka yang secara term psikologis disebut dengan avoidant personal disorder, mereka justru sangat peduli dengan perasaan orang lain, mereka menunjukkan sikap malu-malu dan cemas jika harus berhadapan dengan orang lain.
  2. Kepribadian Ganda (Multiple Personality Disorder)
    Mitos:
    Orang yang berkepribadian ganda menunjukkan perubahan perilaku yang radikal, kehilangan ingatan atas apa yang baru saja terjadi ketika kepribadiannya berubah.
    Fakta:
    Orang yang memiliki kepribadian ganda, biasanya walaupun tidak selalu, disebabkan oleh kejadian yang sangat traumatis disaat mereka masih kanak-kanak. Kejadian traumatis tersebut mengakibatkan munculnya dua sampai dengan ratusan kepribadian alternatif (alter personality) pada diri seseorang. Alter personality tidak selalu menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan sehingga para pengamat/terapis tidak menyadari eksitensinya. Kebanyakan orang dengan kepribadian ganda menyadari bahwa mereka memiliki alter personality dan mengetahui siapa saja alter personality mereka. Pada banyak kasus para alter personality ini dalam derajat tertentu saling berkomunikasi bahkan bekerja sama untuk menutupi kasus/masalah mereka dari terapis. Jadi perubahan perilaku yang radikal dan kehilangan ingatan saat mereka berganti kepribadian hanyalah mitos.
  3. Disleksia (Dyslexia)
    Mitos:
    Semua penderita disleksia tidak dapat membaca dengan benar karena mereka selalu melihat kata/kalimat dengan urutan yang salah.
    Fakta:
    Kalimat diatas merupakan dua mitos yang salah. Pertama, penderita disleksia dapat membaca jika sejak awal teridentifikasi, penderita mendapatkan pertolongan dari profesional untuk belajar dan memahami kata/kalimat. Dan jikapun pertolongan terlambat diberikan, penderita disleksia tetap dapat membaca namun dengan tahap perkembangan yang lambat dari seharusnya. Kedua, penderita disleksia sulit membaca karena masalah penglihatan mereka yang tidak dapat melihat urutan huruf dengan benar. Yang sebetulnya menjadi masalah bagi penderita disleksia bukanlah masalah penglihatan mereka tapi lebih karena keunikan cara berpikir mereka, bukan masalah visual.
  4. Skizofrenia (Schizophrenia)
    Mitos:
    Penderita skizofrenia mendengar suara-suara dalam kepalanya.
    Fakta:
    Kita sering berkelakar "ada suara-suara di kepala seperti orang skizofren". Ternyata, kebalikan dengan apa yang orang-orang yakini mengenai hal tersebut, tidak semua penderita skizofrenia mendengar suara-suara dalam kepala mereka. Halusinasi auditori yang sering mereka alami justru bukan datang dari dalam diri mereka melainkan dari objek yang berasal dari luar diri mereka. Selain itu, tidak semua penderita skizofrenia memiliki simptom yang sama. Mereka mungkin menunjukkan simptom halusinasi (melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata), atau delusi (mempercayai sesuatu yang tidak realistis), atau memunculkan sikap tanpa ekspresi atau dalam catatonic schizophrenia, mereka kehilangan hasrat untuk bergerak. Skizofrenia merupakan kelainan yang cukup kompleks dengan kemungkinan kemunculan simptom yang sangat luas.
  5. Autis (Autism Spectrum Disorder)
    Mitos:
    Autis adalah kelainan yang sangat berat sehingga seseorang dengan kelainan tersebut tidak akan bisa berkomunikasi dengan lingkungan dan hanya hidup dalam dunianya sendiri.
    Fakta:
    Banyak yang berpikir bahwa mereka yang telah di didiagnosis dengan autis akan memiliki hambatan untuk dapat berfungsi secara efektif di lingkungan karena orang yang autis secara permanen hidup dalam dunianya sendiri, tidak dapat diajak berkomunikasi, sering menunjukkan sikap temper tantrum(marah/mengamuk) tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya, sesuai dengan namanya Autism Spectrum Disorder, merupakan suatu kelainan yang memiliki spektrum mulai dari ringan sampai dengan berat. Ringan bila mereka masih dapat berkomunikasi dan berfungsi dengan baik dalam lingkungan, meskipun kesehariannya mereka menunjukkan sikap-sikap unik atau eksentrik bagi lingkungannya, berat jika sudah menujukkan ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan lingkungan dan tampak hanya hidup dalam dunianya. Meskipun seseorang telah dikategorikan dalam spektrum autis yang berat, dengan terapi yang tepat dan konsisten, mereka masih dapat berkomunikasi (meskipun sangat terbatas) dan tidak menjadi beban untuk lingkungannya karena dalam batas tertentu mereka dapat dilatih untuk mandiri.
  6. Hiperaktif (Attention Deficit Hyperactive Disorder/ADHD)
    Mitos:
    Anak dengan ADHD tidak dapat memperhatikan atau berkonsetrasi terhadap apapun, sedikitpun.
    Fakta:
    Masalah ADHD belakangan ini cukup banyak muncul dan menjadi sesuatu yang biasa ditemui pada anak-anak. Bahkan terkadang orang tua dengan mudahnya melabeli anak mereka dengan "anak hiperaktif, tidak bisa diam sedetik pun". Pada kenyataannya, anak-anak dengan ADHD masih dapat memusatkan konsentrasi mereka, terutama pada hal-hal yang memang menurut mereka luar biasa sangat menarik. Yang menjadi masalah mereka sebetulnya adalah span atau rentang perhatian yang pendek sehingga mereka dengan mudah terganggu konsentrasinya oleh stimulus atau rangsangan yang muncul dari lingkungan. Dengan terapi yang tepat, anak-anak dengan ADHD dapat berlatih untuk mengatasi hal tersebut dan memperpanjang rentang konsentrasinya.
  7. Mutisme Selektif (Selective Mutism)
    Mitos:
    Penderita mutisme selektif akan menolak untuk berbicara atau pernah mengalami kejadian traumatis dimasa lalunya.
    Fakta:
    Pada awalnya sekelompok besar guru, orang tua dan psikolog yang bekerja untuk memahami mutisme selektif berpendapat bahwa penderita mutisme selektif memilih untuk tidak berbicara, mungkin dalam usahanya untuk mengontrol orang lain. Namun kemudian diketahui bahwa orang dengan mutisme selektif juga sebenarnya ingin berbicara tapi mereka takut untuk melakukannya. Sebagian penderita mutisme selektif ternyata juga diketahui menderita gangguan social anxiety disorder dimana biasanya mereka merasa tidak nyaman berada di keramaian, dan diam adalah cara mereka untuk mengatasi rasa cemas itu.
    Satu hal menarik, salah satu cara orang tua menghukum anaknya adalah dengan cara melarangnya berbicara, padahal hal ini dapat memperparah anak yang telah menderita mutisme selektif.
  8. Gangguan Obsesif-Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder/OCD)
    Mitos:
    Individu dengan masalah obsesif-kompulsif terobsesi dengan kebersihan yang berlebihan karena ketakutan mereka terhadap kuman serta terobsesi dengan kerapihan yang sangat kaku.
    Fakta:
    Obsesif kompulsif merupakan salah satu bentuk gangguan kecemasan dengan dua karakteristik utama.Pertama mereka memiliki pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak mereka inginkan (obsessive thoughts)namun terus muncul dalam kepala mereka, salah satunya bisa mengenai kuman atau kebersihan, atau pikiran mengenai keamanan sehingga mereka melakukan pemeriksaan yang berlebihan terhadap pintu dan jendela rumah atau mereka memiliki pikiran-pikiran untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai norma, seperti mencuri, membunuh sehingga mereka melakukan sesuatu berulang-ulang hingga mereka merasa pikiran tersebut hilang.
    Kedua, orang-orang dengan masalah ini memiliki pemikiran dan keyakinan bahwa jika mereka melakukan suatu ritual tertentu akan menghindarkan mereka dari kejadian-kejadian buruk yang mungkin terjadi seperti mencuci tangan dengan jumlah tertentu, menghindari pemakaian nomor yang dianggap buruk, mengucapkan kata-kata tertentu (compulsion). Dengan melakukan hal tersebut sebetulnya hanya menghilangkan pikiran mereka untuk sementara saja dan ketika pikiran itu datang kembali, mereka akan melakukan hal tersebut dan terus berulang.
    Jadi tidak semua orang dengan masalah obsesif-kompulsif memiliki ketakutan terhadap kuman atau penyakit.
  9. Mencederai Diri (Self Injury/Self Harm)
    Mitos:
    Individu yang dengan sengaja memotong, membakar atau menyakiti diri sendiri, yang bertujuan untuk mengakhiri hidupnya atau mendapatkan perhatian dari lingkungan.
    Fakta:
    Umumnya kasus mencederai diri seperti ini banyak ditemui pada remaja, mereka berusaha mengatasi gangguan atau masalah psikis yang dihadapi dengan merusak dirinya sendiri secara fisik. Cara tersebut mereka lakukan tidak selalu karena mereka ingin mengakhiri hidup mereka namun sebaliknya, mereka justru mencari jalan yang lebih aman dari bunuh diri dengan melakukan hal tersebut. Banyak orang berpendapat bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk mendapatkan perhatian dari lingkungan, itu dapat menjadi salah satu kemungkinannya namun beberapa kasus memperlihatkan individu yang menyakiti dirinya sendiri juga berusaha menutupi hal tersebut dengan berbagai cara, misalnya mengenakan pakaian berlengan panjang (jika luka di tangan) atau justru sejak awal mereka memilih lokasi luka yang tidak dapat dilihat orang lain. Jadi, ketika kita menemui seseorang dekat dengan kita melakukan hal ini, yang perlu menjadi perhatian bukan kenapa mereka melukai diri sendiri tapi lebih mencari tahu masalah apa yang dihadapi mereka sehingga mereka merasa perlu atau ingin melukai dirinya.








0 komentar:

Posting Komentar